Transkripsi

DUMADI: Tentang Menjadi, Tanpa Pusat

Awighnam astu.
Mugi rahayu sagung dumadi
.
Semoga kesejahteraan menyertai seluruh yang terjadi.

Bukan hanya manusia.
Bukan hanya makhluk bernyawa.
Bukan hanya yang terlihat.
Tetapi seluruh arus kemunculan.
Seluruh yang sedang menjadi.

Kita terbiasa berbicara tentang “makhluk”
seolah-olah ada entitas tetap
yang lahir, hidup, dan mati.
Tetapi kata Jawa yang halus itu berkata lain.

Dumadi

Bukan benda.
Bukan substansi.
Bukan inti yang berdiri sendiri.
Dumadi adalah peristiwa.
Kemunculan.
Laku yang terjadi dalam jalinan sebab.

Bunga dumadi karena tanah, air, cahaya, dan waktu.
Kemarahan dumadi karena luka, ingatan, dan rasa terancam.
Identitas pun dumadi karena cerita, pengakuan, dan kebiasaan.

Tidak ada yang berdiri sendiri.
Tidak ada pusat yang terisolasi.
Semua saling menjadikan.

Dan jika semua adalah dumadi,
maka “aku” pun demikian.

Aku sebagai anak.
Aku sebagai ayah.
Aku sebagai suami.
Aku sebagai profesional.
Aku sebagai orang Jawa.
Semua adalah peran yang sedang terjadi.
Peran bukan kesalahan.
Tanggung jawab bukan ilusi.
Tetapi ketika peran dibekukan menjadi inti,
di situlah mulai ada ketegangan.

Kita mulai menutrisi cerita tentang diri.
Kita memberi makan pada narasi:
“aku harus menjadi ini.”
“aku tidak boleh gagal.”
“aku adalah ini.”

Dan cerita itu meminta perlindungan.

Di dalam ajaran kuno,
haus itu disebut tṛṣṇā.
Pelekatan pada kebutuhan itu disebut upādāna
secara harfiah: mengambil sebagai bahan bakar.

Cerita tentang diri adalah bahan bakar yang halus.

Ia memberi rasa stabil.
Ia memberi rasa ada.
Ia memberi rasa pusat.
Tetapi ia juga membuat takut.
Takut kehilangan peran.
Takut kehilangan pengakuan.
Takut kehilangan wajah.

Kita mengira yang terancam adalah “aku”.
Padahal sering kali yang terancam hanyalah cerita.

Apa yang sebenarnya runtuh
ketika identitas goyah?
Apakah kesadaran berhenti?
Apakah pengalaman lenyap?

Tidak.

Yang terguncang adalah struktur naratif
yang selama ini kita kira sebagai diri.
Dan di balik keguncangan itu
ada ruang yang lebih sunyi.
Ruang tanpa pusat.
Ruang tanpa keharusan menjadi.

Barangkali inilah yang oleh para bijak disebut
sebagai padamnya api.

Bukan padamnya kehidupan.
Bukan lenyapnya makhluk.

Tetapi padamnya kebutuhan
untuk terus menutrisi pusat naratif.
Api menyala karena bahan bakar.
Tanpa bahan bakar, ia tenang.

Ketika haus untuk menjadi melembut,
ketika cerita tidak lagi harus dipertahankan,
sesuatu yang ringan muncul.
Tidak dramatis.
Tidak spektakuler.
Hanya kelapangan.

Dan dari kelapangan itu,
welas asih lahir dengan cara yang berbeda.

Bukan sebagai proyek untuk menjadi orang baik.
Bukan sebagai ambisi spiritual.
Tetapi sebagai respons alami.

Jika tidak ada pusat yang harus diamankan,
mengapa tidak peduli?
Jika tidak ada aku yang terpisah,
mengapa tidak membuka hati?
Maka bodhicitta—hati yang terjaga—
muncul bukan dari kewajiban,
melainkan dari keluasan.

Dumadi tidak menolak peran.
Ia tidak memerintahkan kita meninggalkan dunia.

Ayah tetap menjadi ayah.
Dokter tetap menjadi dokter.
Petani tetap menanam.
Guru tetap mengajar.

Tetapi peran tidak lagi menjadi penopang eksistensi.
Ia menjadi laku yang terjadi
di dalam jaringan yang sama.
Seperti relief-relief tua yang memahat kehidupan:
tokoh-tokoh bertindak,
tetapi tak satu pun dipahat sebagai esensi abadi.
Semua adalah arus.

Maka doa pengharapan itu menjadi sangat dalam.
Mugi rahayu sagung dumadi
Semoga keseimbangan menyertai seluruh arus kemunculan ini.

Termasuk aku yang membaca.
Termasuk engkau yang merenung.
Termasuk yang kita sebut dunia.
Tidak ada pusat istimewa.

Hanya jaringan peristiwa
yang saling menopang.

Barangkali hidup bukan tentang menjadi seseorang.
Barangkali hidup adalah membiarkan
apa yang perlu terjadi
terjadi.

Tanpa membekukannya.
Tanpa mengklaimnya.
Tanpa takut jika ia berubah.

Dan ketika cerita tentang diri berhenti sesaat,
tidak ada kekurangan.
Hanya keheningan yang cukup.
Cukup untuk melihat.
Cukup untuk peduli.
Cukup untuk hadir.

Dumadi

Yang terjadi.
Yang muncul.
Yang berlalu.

Tanpa pusat.
Tanpa inti yang beku.

Namun penuh.
Have a great, beneficial day, everyone!
***

Oleh: Upasaka Salim Lee, 26 Februari 2026.

Artikel terkait: Ketika “Cerita” Tidak Berarti Nihil

Baca Lebih Lanjut