LAGI, TENTANG 'NGOYOT JERO'
Banyak ajaran Buddhadharma Nusantara yang sudah 'ngoyot jero', mengakar yang dalam, tampak dengan banyaknya ungkapan Jawa yang sebetulnya bisa dirasakan lebih dalam dan lebih kaya kala dimengerti seiring dengan piwulang ajaran Borobudur, dibandingkan dengan cara kebanyakan orang sekarang mengartikannya.
Misalnya: “weruh sadurunge winarah”—mengetahui sebelum diberi tahu. Mungkin sekali bukan berarti paranormal atau tahu fakta tersembunyi, tetapi menunjuk pada bentuk pengenalan yang lebih primordial.
Atau "manunggaling kawula gusti" yang sering langsung dibaca secara teistik “jiwa bersatu dengan Tuhan.” Padahal dalam banyak suluk Jawa, terutama yang lebih halus, maknanya bisa jauh lebih subtil.
Begitu juga misalnya dari Serat Wedhatama: "Yen mangkono kena sinebut wong sepuh, Lire sepuh sepi hawa, Awas roroning atunggil …”
Weruh sadurunge winarah
• weruh → mengetahui/menyadari/melihat
• sadurunge → sebelum
• winarah → diberi tahu, diajari, diinstruksikan (warah/piwulang)
Harfiahnya:
Terjemahan umum: mengetahui sebelum diberi tahu — dan ini langsung diasosiasikan dengan kemampuan paranormal, clairvoyance, ramalan.
Namun, jika kita baca dengan mata Dharma:
Weruh — bukan sekadar tahu, melainkan melihat langsung.
Winarah — dari wuruk, diajarkan, diberi tahu dari luar.
Maka, weruh sadurunge winarah bisa berarti sesuatu yang jauh lebih dalam yaitu kemampuan melihat langsung realitas sebelum konsep dan label dari luar membentuk persepsi.
Ini sangat dekat dengan apa yang dalam tradisi Buddhis disebut pratyakṣa — pengetahuan langsung yang mendahului inferensi dan pengajaran. Atau, dalam Zen “melihat sebelum pikiran bergerak.
Bukan mengetahui fakta tersembunyi, melainkan melihat apa adanya sebelum filter konseptual bekerja. Ini yathābhūtadarśana dalam bahasa Jawa.
Dan menariknya ini hanya mungkin jika asmimāna sudah cukup kendor karena filter 'what is in it for me' adalah salah satu lapisan konseptual yang paling tebal yang menutupi penglihatan langsung itu.
Ini sangat dekat dengan prajñā, karena prajñā dalam Buddhadharma bukan terutama informasi yang diajarkan dari luar, tetapi lebih seperti:
• pengenalan yang tersingkap
• seeing-before-concept
• knowing prior to formulation
Persisnya: ada yang dilihat sebelum pikiran memberi nama.
Itu “weruh sadurunge winarah.”
Bukan anti-belajar. Ini penting. Bukan berarti tidak perlu guru atau piwulang.
Justru piwulang berfungsi membangunkan sesuatu yang sebenarnya telah mungkin dikenali.
Seperti dalam Zen, “tidak memberi sesuatu yang baru — hanya menunjukkan apa yang selalu sudah demikian.”
Sangat dekat. Ini bahkan sangat Madhyamaka.
Ketika Nāgārjuna membongkar semua dṛṣṭi, yang tersisa bukan nihilisme, melainkan 'seeing unburdened by views' – weruh sebelum diikat oleh pandangan.
Bedakan dengan “kawruh hasil diajar”
• Kawruh bisa diwariskan.
• Weruh harus dialami.
Guru bisa memberi petunjuk, tetapi tidak bisa menggantikan weruh.
Ini inti “ehipaśyika” juga, come and see.
“Sadurunge winarah” bisa dibaca bukan cuma “sebelum diajari guru” tetapi sebelum realitas dipotong oleh konsep.
Sebelum:
• aku/kamu
• ada/tiada
• suka/benci
Ada seeing yang lebih asli.
Ini hampir langsung ‘ranah’ Prajñāpāramitā.
Hubungan dengan Bodhi
Bodhi sendiri bukan penambahan pengetahuan, tetapi penggugahan pada apa yang selalu demikian.
Bukan memperoleh pengetahuan baru, tetapi terjaga pada yang telah ada. Itu “weruh sadurunge winarah.”
MANUNGGALING KAWULA GUSTI
Pembacaan teistik: jiwa menyatu dengan Tuhan — dan langsung masuk ke dalam kerangka dualisme subjek-objek: ada aku yang kecil, ada Tuhan yang besar, keduanya menyatu.
Namun, dalam suluk-suluk yang lebih halus — Suluk Linglung, Suluk Wujil, dan lainnya, yang dimaksud jauh lebih subtil:
- Kawula — bukan sekadar 'hamba' dalam arti teologis. Kawula bisa berarti yang mengira dirinya terpisah — the sense of being a separate self.
- Gusti — bukan sekadar 'Tuhan' sebagai entitas eksternal. Gusti bisa menunjuk pada realitas yang mendasari segalanya — Yang Ada, dharmatā, tathatā, suchness.
- Manunggal — bukan peleburan dua entitas yang sebelumnya terpisah, melainkan pengenalan bahwa pemisahan itu tidak pernah ada — avidyā yang gugur, bukan dua hal yang bergabung, tetapi luruhnya keterbelahan subjek–objek. Ini sangat dekat dengan anattā yang dipahami dari dalam: bukan aku tidak ada, melainkan batas antara 'aku' dan 'bukan aku' yang tampak solid itu ternyata tidak pernah ada seperti yang dibayangkan.
Bukan:
aku (entitas kecil) bersatu dengan Tuhan (entitas besar), tetapi
keterpisahan kawula–Gusti terbaca sebagai konstruksi.
dan yang tersingkap: aroroning atunggil, advaya.
Apakah kawula dan gusti satu?
Tidak sesederhana itu.
Dua?
Juga tidak.
Dudu siji dudu loro, bukan satu bukan dua.
Dalam konteks Madhyamaka seperti yang diajarkan oleh Atisha Dipamkara, alumni Muarajambi, penulis sejarah dan penafsir ajaran Buddhadharma Nusantara: manunggaling kawula Gusti bisa dibaca sebagai realisasi śūnyatā — bukan penyatuan mistik dengan Tuhan personal, melainkan gugurnya ilusi pemisahan yang mendasar.
Manunggaling kawula gusti
bukan aku menjadi sesuatu yang mahatinggi, tetapi
luruhnya batas antara yang mencari
dan yang dicari.
Bukan peleburan dua hal,
melainkan terlihatnya
bahwa keterpisahan itu sendiri semu.
YEN MANGKONO KENA SINEBUT WONG SEPUH, LIRE SEPUH SEPI HAWA, AWAS RORONING ATUNGGIL
Serat Wedhatama, K.G. Mangkunagara IV Surakarta Hadiningrat
Ini padat.
Wong Sepuh — orang tua, orang yang matang. “Sepuh” bukan tua umur.
Ini sangat penting. Wong sepuh di sini bukan sekadar orang lanjut usia.
Sepuh di sini lebih seperti matang, terasah, tua dalam laku.
Hampir seperti “arya” dalam rasa etis spiritual, seseorang yang telah dimatangkan oleh penglihatan.
Sepuh di sini juga langsung dijelaskan sendiri oleh Mangkunagara IV:
Sepi hawa — sepi bukan berarti sunyi dalam arti tidak ada suara. Ia berarti “bebas dari”, tidak dikuasai oleh hawa — nafsu, dorongan, keinginan yang menarik batin ke luar.
Ini luar biasa dekat dengan asmimāna dan tṛṣṇā.
• hawa di sini: dorongan nafsu, impuls reaktif, hawa-nepsu.
• sepi hawa bukan mati rasa.
Bukan tanpa rasa, tetapi sunyi dari kehebohan dorongan egoik.
Sangat dekat dengan:
• tṛṣṇā mereda
• upādāna melunak
• semeleh yang sadar
Dan ini juga sangat “jalan tengah”.
Bukan represi hawa (attakilamathānuyoga),
bukan tunduk pada hawa (kāmasukhallikānuyoga),
tetapi sepi hawa.
Ini hampir komentar Jawa atas Dhammacakkappavattana.
Ini asmimāna yang sudah sangat kendor — batin yang tidak lagi terseret oleh dorongan 'what is in it for me.' Sepi hawa bukan penekanan nafsu dengan paksa. Ia kondisi yang lahir dari penglihatan, dari waskita yang sudah matang.
Dan kemudian:
Awas roroning atunggil. Ini yang paling dalam.
Awas di sini bukan “hati-hati” biasa, tetapi
waspada, terang sadar, waskita.
Dan objek kewaspadaan itu?
Roroning atunggil
dua dalam kesatuan/dualitas dalam nondual keutuhan.
Ini hampir berarti advaya dalam bahasa Jawa.
Awas —melihat dengan tajam dan tembus. Karena ini bukan doktrin metafisik yang dipercaya.
Namun, sesuatu yang diawasi, disadari langsung. Bukan kepercayaan, melainkan penghayatan.
Persis prajñā.
Roroning atunggil — loro (dua) + tunggil (satu) — dua yang satu, atau yang satu dalam dua.
Ini bukan hanya ungkapan mistik yang indah. Ini deskripsi yang sangat presisi tentang cara realitas bekerja:
Segala sesuatu tampak dua — ada subjek dan objek, ada aku dan dunia, ada siang dan malam, ada timbul dan lenyap.
Namun, awas — penglihatan yang tembus — melihat bahwa dua itu tidak pernah benar-benar terpisah. Mereka atunggil — satu dalam dasarnya.
Ini sangat dekat dengan advaya dalam Madhyamaka — nondua, bukan satu dalam arti monistik, bukan dua dalam arti dualistik. Realitas yang melampaui kategorisasi dua/satu.
Dan awas roroning atunggil adalah persis samyagdṛṣṭi yang paling matang — cara pandang yang melihat proses timbul-lenyap tanpa jatuh ke eternalisme maupun nihilisme, melihat kawula-Gusti tanpa jatuh ke dualisme maupun monisme.
“Aloroning Atunggil”— bukan satu, bukan dua
Dalam rasa Jawa mistik, ini menunjuk paradoks:
• tidak sepenuhnya satu (yang meniadakan keragaman)
• tidak sungguh dua (yang memecah menjadi dualitas)
Persis logika advaya.
Bukan monisme.
Bukan dualism, tetapi
kesatuan tanpa menghapus keberagaman.
Sangat dekat dengan Gandavyūha
Di kutagara: banyak pendapa, tetapi satu pendapa memuat semua.
Apakah satu? Ya dan tidak.
Apakah banyak? Ya dan tidak.
Inilah aloroning atunggil.
Tunggal bukan meniadakan banyak.
Banyak tidak merusak satu.
Itu interpenetrasi.
Ini seperti Jala Indra
Satu permata memantulkan semua permata.
Apakah satu permata identik dengan semua? Tidak.
Terpisah mutlak? Juga tidak.
Aloroning atunggil.
Sangat Madhyamaka juga
Nāgārjuna akan senyum.
Karena ini melampaui:
• ada/tiada
• satu/banyak
Ingat argumen klasik:
bukan ekatva (one)
bukan pṛthaktva (many separate)
Ini persis.
Jawa ternyata menyimpan bahasa untuk itu.
Dudu siji dudu loro (bukan satu bukan dua). Ini hampir terjemahan vernakular dari advaya.
Dan lebih hidup dari abstraksi filsafat. Karena terasa.
Bedanya dengan monisme penting sekali
Kadang orang salah paham: “oh semua satu.”
Tidak. Itu bisa jatuh ke śāśvatavāda halus.
Huayan/Gandavyūha tidak bilang semua dilebur jadi satu zat.
Namun, setiap hal sepenuhnya dirinya dan sepenuhnya menembus semua.
Itu lebih halus. Aloroning atunggil menangkap itu.
Merangkai ketiganya, hal yang menggerakkan hati
Ada benang merah yang sangat jelas:
Weruh sadurunge winarah — penglihatan yang mendahului konsep: ini prajñā dalam benihnya yang paling awal.
Manunggaling kawula Gusti — gugurnya ilusi pemisahan. Ini prajñā yang sudah matang, śūnyatā yang direalisasi.
Sepi hawa, awas roroning atunggil — kondisi batin yang bebas dari tarikan asmimāna, yang mampu melihat advaya. Ini prajñā sekaligus samādhi sekaligus sīla yang sudah menjadi satu laku.
Ketiganya bergerak dalam satu arah — dari benih penglihatan menuju penggugahan penuh — dan semuanya sudah tersimpan dalam tradisi Jawa. Sudah ngoyot jero, sudah hidup dalam tembang dan suluk. Menunggu untuk lebih dikenali kembali.
Ajaran sedalam ini tidak disimpan dalam teks akademis yang tertutup. Ia hidup dalam tembang, dalam suluk, dalam pewayangan, dalam ungkapan sehari-hari yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Ini adalah cara Buddhadharma Nusantara bertahan. Bukan sebagai doktrin yang dihafalkan, melainkan sebagai kebijaksanaan yang dinyanyikan, ditembangkan, dirasakan bersama.
Waskita lan weruh, sepi hawa, awas roroning atunggil — ini bukan museum. Ini masih hidup.
Tribawana
Tribawana ialah pemahaman masyarakat Jawa tentang adanya tiga alam (Jagad, Bawana) di sekitar diri setiap manusia.
Ketiga jagad ini perlu disadari keberadaannya agar dapat mencapai suatu keseimbangan dalam kehidupan.
Ketiga dunia yang dimaksud dalam tribawana adalah:
• Dunia Ilhami (Bawana Pepadang)
Adalah hubungan manusia dengan sang pencipta. Dalam masyarakat Jawa, dunia ini juga biasa
dikenal dengan istilah Nur Kosmos.
• Dunia Kedalaman Diri (Bawana Alit)
Adalah hubungan manusia dengan diri sendiri. Dalam masyarakat Jawa, dunia ini juga biasa dikenal dengan istilah Mikro Kosmos.
• Dunia Semesta Alam (Bawana Gede)
Adalah hubungan manusia dengan alam semesta/dunia sekitar. Dalam masyarakat Jawa, dunia ini juga dikenal dengan istilah Makro Kosmos.
Dalam filosofi Jawa, tribawana juga dapat dipandang dari sudut yang berbeda, yaitu filosofi tentang 'urip’ (hidup), ‘sing nguripi’ (yang menghidupkan), dan ‘sing nggawe urip’ (yang membuat kehidupan).
• Urip
Urip berarti ‘hidup’ dalam bahasa Jawa. Pemahaman paling sederhana untuk urip adalah hadirnya sosok kehidupan seorang manusia yang hadir di dunia, atau dapat dipahami sebagai mikro kosmos.
Manusia itu sendiri terdiri dari dua unsur, yaitu unsur ragawi dan unsur sukmawi.
Unsur ragawi dapat hadir karena adanya hubungan dalam bentuk panca indra dengan 'sing
nguripi,' sedangkan unsur sukmawi dapat hadir karena adanya campur tangan 'sing nggawe urip.'
• Sing Nguripi
Sing nguripi berarti ‘yang menghidupkan’ dalam bahasa Jawa. Pemahaman paling
sederhana untuk sing nguripi adalah hadirnya alam semesta beserta unsur-unsurnya
(air, api, tanah, dan sebagainya) di sekitar manusia, atau dapat dipahami sebagai makro kosmos. Keberadaan sing nguripi adalah juga karena adanya keikutsertaan 'sing nggawe urip' sehingga kontak manusia dengan sing nguripi hubungannya bersifat horizontal.
• Sing Nggawe Urip
Sing nggawe urip berarti ‘yang membuat kehidupan’ dalam bahasa Jawa. Pemahaman paling sederhana untuk sing nggawe urip adalah hadirnya sosok Gusti atau 'Kang Akarya Jagad', yang telah memungkinkan adanya kehidupan pada manusia dan alam semesta di sekitarnya, atau dapat dipahami sebagai nur kosmos. Kontak manusia dengan sing nggawe urip hubungannya bersifat vertikal.
Tujuan dari mantra-mantra adalah untuk menyatukan ketiga unsur—urip, sing nguripi dan
sing nggawe urip sehingga dapat membawa manusia untuk dapat fokus kepada hubungan ketiga alam tersebut.
Selamat “malam minggon” semuanya. Rileks dengan bodhicitta ....
***
Oleh Upasaka Salim Lee, 25-26 April 2026.
Kata kunci: advaya, awas roroning atunggil, manunggaling kawula gusti, tribawana, weruh sadurunge winarah.






