Teks Topikal

Sila-sila Bodhisattva

BODHICITTA ASPIRATIF (WISHING BODHICITTA):

Tekad setelah mengambil sila untuk mengembangkan bodhicitta aspiratif dibagi dalam dua bagian:
I.Bagaimana menjaga sila-sila agar bodhicitta aspiratif tidak merosot dalam kehidupan ini.
II.Bagaimana menjaga dan meningkatkan praktik Anda agar bodhicitta aspiratif tidak merosot dalam kehidupan-kehidupan mendatang.

I. Bagaimana menjaga sila-sila agar bodhicitta aspiratif tidak merosot dalam kehidupan ini
    1.Bangkitkan inspirasi dengan merenungkan manfaat-manfaat dari mengembangkan bodhicitta, yaitu:
        a.Merupakan gerbang satu-satunya untuk memasuki jalan Mahayana.
        b.Anda akan disebut "Putera-Puteri para Buddha/Jinaputra."
        c.Anda akan melampaui kecemerlangan para Shravaka dan Pratyekabuddha.
        d.Anda akan menjadi objek untuk penghormatan dan persembahan.
        e.Dengan mudah Anda akan menyempurnakan pengumpulan potensi-potensi positif (punya) yang luar biasa banyaknya.
        f.Dengan segera halangan-halangan karena tilasan-tilasan karma negatif akan terpurifikasi.
        g.Anda akan mencapai apapun yang Anda inginkan.
        h.Anda tidak akan dikuasai oleh gangguan atau bahaya.
        i.Anda akan menjadi sumber kenyamanan dan kebahagiaan yang tiada habis-habisnya bagi makhluk-makhluk.
        j.Dengan segera Anda akan mencapai semua realisasi dalam jalan mencapai penggugahan.

    2.Renungkan bodhicitta dan lafalkan doa tiga kali pada pagi hari dan tiga kali pada malam hari agar bodhicitta tidak merosot. Merupakan karma negatif yang sangat berat jika meninggalkan bodhicitta karena Anda telah berjanji untuk membimbing semua makhluk pada penggugahan; merupakan karma negatif yang berat jika Anda melanggar janji dan meninggalkan bodhicitta. Anda seharusnya tidak pernah berkecil hati/putus asa bahkan jika kelihatannya perlu waktu yang begitu lama untuk mencapai penggugahan. Daripada menjadi putus asa, renungkan manfaat-manfaat dan keuntungan-keuntungan dari mengembangkan bodhicitta, dan bangkitkan kembali sila-sila Anda dengan melafalkan doa Bodhicitta Aspiratif berikut:

    "Oh para Buddha, Bodhisattva dan Guru, mohon beri perhatian pada apa yang saya sampaikan dari lubuk hati saya: Seperti semua Buddha di masa lampau telah mengemmbangkan bodhictta, bodhicitta yang sesungguhnya, kemudian menjalankan tahap-tahap praktik semua Bodhisattva, semoga saya juga, demi semua makhluk, mengembangkan bodhicitta dan mengikuti praktik yang telah dijalankan semua Bodhisattva."

    3.Jangan meninggalkan bodhicitta karena tindakan tidak bajik yang dilakukan makhluk lain. Ini terjadi jika Anda berpikir bahwa Anda tidak akan membantu atau bertindak demi kebahagiaan makhluk tertentu yang telah menyakiti Anda.

    4. Mengumpulkan dua pengumpulan. Pada tahap awal, Anda dapat memperoleh potensi-potensi positif yang bersifat materiil yang luar biasa banyaknya dengan memberi kepada yang miskin dan membuat persembahan kepada Triratna, dan memperoleh potensi-potensi positif secara mental dengan merenungkan shunyata dan bodhicitta.

II. Bagaimana menjaga dan meningkatkan praktik Anda agar bodhicitta aspiratif tidak merosot dalam kehidupan-kehidupan mendatang

    1. Meninggalkan empat tindakan yang menghasilkan karma hitam:
        a. Karma hitam yang pertama adalah dengan sengaja menipu atau membohongi kepala vihara, Guru, atau makhluk suci lainnya, seperti mengubah topik pembicaraan ketika Guru Anda meminta Anda untuk melakukan sesuatu, atau tidak memberitahukan Guru Anda tentang tindakan-tindakan negatif Anda karena merasa takut ditegur.

        b. Karma hitam yang kedua adalah membuat orang lain menjadi berkecil hati atas tindakan-tindakan bajik yang dilakukannya, atau menyebabkan orang lain menyesali tindakan bajik yang telah mereka lakukan, misalnya mengatakan berikut kepada orang yang mempraktikkan pengentasan diri, "Itu bagus tetapi akan sulit bagi Anda untuk menjalankan praktik tersebut. Anda menyebabkan mereka meragukan praktik bajik mereka." Bahkan jika mereka tidak menyesali tindakan bajik mereka, anjuran Anda untuk tersebut adalah karma hitam.

        c. Karma hitam yang ketiga adalah mengucapkan sesuatu yang tidak menyenangkan kepada seorang Bodhisattva karena kemarahan. Bahkan jika Bodhisattva tersebut bersalah, jika kata-kata caci-makian Anda didengar oleh orang lain, Anda menciptakan karma hitam.

        b. Karma hitam yang keempat adalah bertindak secara tipu daya terhadap makhluk hidup, mempunyai motif tersembunyi bukannya aspirasi murni untuk mencapai penggugahan demi semua makhluk, seperti berpura-pura sebagai seorang yang berpendidikan atau menyembunyikan kekurangan-kekurangan Anda.

    2. Mengembangkan empat tindakan yang menghasilkan karma putih:

    Empat karma putih berikut ini adalah penawar untuk keempat karma hitam di atas.

    a. Tidak mengucapkan kata-kata bohong kepada satu makhluk pun meskipun dalam bentuk lelucon atau bahkan bila itu mengorbankan hidup Anda.

    b. Mempertahankan sikap tulus yang sungguh-sungguh kepada setiap makhluk, bebas dari tipu muslihat apapun. Membantu makhluk lain tanpa membeda-bedakan atau menggunakan tipu muslihat.

    c. Mencoba untuk membayangkan setiap makhluk sebagai Guru itu sendiri, dan melihat semua makhluk dan benda-benda sebagai benar-benar murni. Tidak mengritik para Bodhisattva. Karena Anda tidak tahu seseorang itu Bodhisattva atau bukan, adalah paling baik untuk memperlakukan semua makhluk sebagai Bodhisattva atau Buddha.

    d. Membimbing seseorang untuk berjuang demi penggugahan sempurna, ketimbang membimbing mereka ke jalan yang lebih rendah. Mengambil tanggung jawab untuk membimbing semua makhluk dalam jalan Mahayana dengan:
        (1)Membangkitkan antusiasme mereka dalam jalan Mahayana. Meskipun Anda tidak berhasil, Anda harus selalu mencoba untuk melakukannya.
        (2)Ikut bergembira (bermudita) atas kebajikan-kebajikan orang lain daripada irihati dengan tindakan-tindakan mereka untuk mencapai penggugahan.
        (3)Kembangkanlah cinta kasih dan welas asih dalam setiap dan semua tindakan Anda.

    Hasil dari mempraktikkan karma putih dan menghindari karma hitam adalah tidak pernah terpisahkan dari bodhicitta. Jika Anda gagal menjalankan salah satu sila, maka Anda harus mengambil ulang sila-sila tersebut. Mengambil ulang sila-sila dapat Anda lakukan sendiri dengan membayangkan representasi dari Buddha di hadapan Anda, bayangkan representasi tersebut adalah Guru Anda dan lafalkan doa bodhicitta.

BODHICITTA AKTIF (ENGAGING BODHICITTA):

Tekad setelah mengambil sila untuk mengembangkan bodhicitta aktif dibagi dalam dua bagian:
    A.Delapan belas kegagalan pokok
    B.Empat puluh enam kegagalan sekunder.

A. Delapan belas kegagalan pokok (the eighteen root downfalls):

1. Kegagalan pokok dari memuji diri sendiri dan mengritik orang lain.
2. Kegagalan pokok dari tidak memberikan Dharma atau bantuan materi.
3. Kegagalan pokok dari tidak menerima permintaan maaf seseorang dan menyerang orang lain.
4. Kegagalan pokok dari meninggalkan jalan Mahayana dan mengajarkan Dharma yang keliru.
5. Kegagalan pokok dari mencuri benda-benda milik Triratna.
6. Kegagalan pokok dari meninggalkan Dharma tertinggi.
7. Kegagalan pokok dari mengambil jubah kuning dan sebagainya, serta menghilangkan status kebhikshuan dari seorang bhikshu/bhikshuni.
8. Kegagalan pokok dari melakukan panca anantaryakarma (lima tindakan negatif yang sangat berat).
9. Kegagalan pokok dari memiliki cara pandang keliru.
10. Kegagalan pokok dari menghancurkan pemukiman dan sebagainya.
11. Kegagalan pokok dari mengajarkan shunyata kepada orang yang belum siap secara mental.
12. Kegagalan pokok dari menyebabkan seseorang berpaling dari penggugahan sempurna.
13. Kegagalan pokok dari menyebabkan seseorang meninggalkan sila Pratimoksha.
14. Kegagalan pokok dari menganggap bahwa seseorang tidak dapat menghilangkan keterikatan dan sebagainya dengan mengikuti jalan Shravaka.
15. Kegagalan pokok dari menyatakan hal yang sepenuhnya bertentangan bahwa Anda telah mengalami shunyata secara langsung padahal belum.
16. Kegagalan pokok dari menerima benda-benda milik Triratna yang diberikan oleh orang lain kepada Anda.
17. Kegagalan pokok dari menolak praktik shamatha, dan memberikan milik seorang meditator kepada orang yang praktiknya adalah pelafalan.
18. Kegagalan pokok dari meninggalkan bodhicitta (tekad mencapai penggugahan demi semua makhluk).

Catatan: Untuk sila ke-9 (kegagalan pokok dari memiliki cara pandang keliru) dan sila ke-18 (kegagalan pokok dari meninggalkan bodhicitta) - terjadinya kedua kegagalan pokok ini tidak membutuhkan hadirnya empat syarat.

Sedangkan untuk sila-sila pokok lainnya, keempat syarat berikut harus ada untuk terjadinya kegagalan pokok:
a. Tahu bahwa diri Anda telah melanggar sila namun Anda tidak peduli. (Jika Anda mengetahui dan menerima bahwa tindakan tersebut adalah negatif maka ini membuat pelanggaran tidak lengkap.
b. Keinginan untuk mengulangi tindakan keliru tersebut, tanpa rasa penyesalan. ( Jika ada keinginan untuk tidak mengulangi tindakan ini lagi, akan membuat pelanggaran menjadi tidak lengkap).
c. Merasa gembira dan puas telah melakukan tindakan keliru tersebut. (Jika ada penyesalan atas tindakan yang telah dilakukan, itu akan membuat pelanggaran menjadi tidak lengkap).
d. Tidak mempunyai hri (standar diri) atau apatrapya (mempertimbangkan makhluk lain). Tidak peduli konsekuensi dari tindakan yang dilakukan.


B. Empat puluh enam kegagalan sekunder (the forty-six secondary offenses):
Tujuh kegagalan sekunder berikut ini (no. 1-7) bertentangan dengan praktik dana paramita.

1. Kegagalan sekunder dari tidak memberikan persembahan pada Triratna melalui tiga gerbang ekspresi (tubuh, ucapan dan pikiran).
2. Kegagalan sekunder dari membiarkan keinginan terus berlanjut.
3. Kegagalan sekunder dari tidak menghormati para senior.
4. Kegagalan sekunder dari tidak menjawab pertanyaan.
5. Kegagalan sekunder dari tidak menerima undangan.
6. Kegagalan sekunder dari tidak menerima persembahan emas atau sebagainya.
7. Kegagalan sekunder dari menolak memberikan Dharma kepada mereka yang menginginkannya.

Sembilan kegagalan sekunder berikut ini (no. 8-16) bertentangan dengan praktik sila paramita.

8. Kegagalan sekunder dari menolak mereka yang gagal dalam menjalankan sila.
9. Kegagalan sekunder dari tidak mengikuti sila-sila, yang akan membimbing orang lain untuk mengembangkan keyakinan.
10. Kegagalan sekunder dari melakukan tindakan yang lebih rendah manfaatnya bagi semua makhluk.
11. Kegagalan sekunder dari tidak mengingkari sila atas dasar welas asih (karuna).
12. Kegagalan sekunder dari menjalani cara hidup yang keliru.
13. Kegagalan sekunder dari lupa diri/ hilang kendali dan bertindak sembarangan.
14. Kegagalan sekunder dari berpikir bahwa Anda memang perlu berputar-putar dalam samsara.
15. Kegagalan sekunder dari tidak menghentikan desas-desus atau reputasi buruk tentang diri Anda.
16. Kegagalan sekunder dari tidak mengoreksi seseorang jika hal ini harus dilakukan dengan cara yang keras.

Empat kegagalan sekunder berikut ini (no. 17-20) bertentangan dengan praktik ksanti paramita.

17. Kegagalan sekunder dari kehilangan empat poin praktik kebajikan.
18. Kegagalan sekunder dari mengabaikan/mengacuhkan mereka yang marah.
19. Kegagalan sekunder dari menolak untuk memaafkan seseorang bila mereka meminta maaf karena telah melakukan kesalahan kepada Anda.
20. Kegagalan sekunder dari membiarkan pikiran-pikiran marah berlanjut.

Tiga kegagalan sekunder berikut ini (no. 21-23) bertentangan dengan praktik virya paramita.

21. Kegagalan sekunder dari mengumpulkan murid-murid dengan keinginan untuk mendapatkan kehormatan dari orang lain.
22. Kegagalan sekunder dari tidak menghilangkan kemalasan dan sebagainya.
23.Kegagalan sekunder dari menghabiskan waktu dengan percakapan yang tidak bermanfaat karena Anda menikmatinya.

Tiga kegagalan sekunder berikut ini (no. 24-26) bertentangan dengan praktik dhyana paramita.

24. Kegagalan sekunder dari tidak mencari makna dari konsentrasi/meditasi.
25. Kegagalan sekunder dari tidak berusaha menghilangkan hambatan-hambatan meditasi.
26. Kegagalan sekunder dari menganggap bahwa sensasi-sensasi kenyamanan dari meditasi adalah pencapaian yang penting.

Delapan kegagalan sekunder berikut ini (no. 27-34) bertentangan dengan praktik prajna paramita.

27. Kegagalan sekunder dari menolak jalan Shravakayana.
28. Kegagalan sekunder dari mempelajari ajaran-ajaran Shravakayana, sementara Anda mempunyai waktu dan kemampuan untuk mempelajari ajaran-ajaran Bodhisattvayana.
29. Kegagalan sekunder dari mempelajari ajaran non-buddhis, sehingga mengabaikan belajar ajaran-ajaran Buddha.
30. Kegagalan sekunder dari tertarik atau terikat pada ajaran non-buddhis pada saat harus mempelajarinya.
31. Kegagalan sekunder dari menolak jalan Mahayana.
32. Kegagalan sekunder dari memuji diri sendiri dan mengritik orang lain.
33. Kegagalan sekunder dari tidak mengikuti pembabaran ajaran.
34. Kegagalan sekunder dari hanya menfokuskan pada sarana dan tulisan/kata-kata.

Dua belas kegagalan sekunder berikut ini (no. 35-46) bertentangan dengan sila moralitas untuk membantu makhluk-makhluk lain.

35. Kegagalan sekunder dari tidak membantu orang yang membutuhkan bantuan.
36. Kegagalan sekunder dari tidak melayani orang yang sakit.
37. Kegagalan sekunder dari tidak berusaha untuk menghilangkan penderitaan orang lain.
38. Kegagalan sekunder dari tidak memberikan penjelasan-penjelasan yang tepat kepada mereka yang melakukan hal-hal berbahaya.
39. Kegagalan sekunder dari tidak membalas kebaikan orang yang telah membantu Anda dengan membantu mereka kembali.
40. Kegagalan sekunder dari tidak berusaha menghilangkan kesedihan seseorang.
41. Kegagalan sekunder dari tidak memberikan uang atau benda-benda materi lainnya kepada orang yang menginginkannya.
42. Kegagalan sekunder dari tidak memenuhi kebutuhan murid-murid Anda.
43. Kegagalan sekunder dari gagal menjaga hubungan baik dengan seseorang.
44. Kegagalan sekunder dari tidak memuji kualitas baik seseorang.
45. Kegagalan sekunder dari tidak menghentikan tindakan membahayakan dari seseorang bila saatnya tepat untuk melakukannya.
46. Kegagalan sekunder dari tidak menggunakan kemampuan supranatural Anda untuk menaklukkan seseorang bila diperlukan.

Potowa Center.
Revisi: Mei 2009.

Baca Lebih Lanjut