Teks Topikal

Kusala – Berbagi

The famous Tang poet, Bo Juyi (772–846) asked Chan master Niaokou (741–824) about the true meaning of buddhadharma, Niaokou responded, “As for doing evil, avoid it; as for the good, practice sharing it”. When Bo Juyi derisively dismissed this as the kind of advice given to three-year-old children, Niaokou didn’t disagree, but simply added that although it was advice that rolled easily off the tongue, it was also advice that most eighty-year-olds failed to put into practice.

Penyair terkenal di zaman Dinasti Tang, Bo Juyi (772-846) bertanya kepada seorang guru Chan, Niaokou (741-824) tentang makna sejati Buddhadharma, dan Niaokou menjawab, "Mengenai hal negatif, hindarilah itu; mengenai hal yang positif, berbagilah itu." Ketika Bo Juyi menyepelekannya karena menganggap nasihat ini lebih cocok untuk anak kecil berumur tiga tahun, Niaokou tidak membantah, tetapi hanya menambahkan bahwa meskipun nasihat ini kelihatannya mudah diucap, tapi gagal dijalankan bahkan oleh hampir semua orang yang sudah berusia 80 tahun.


Yet, when Niaokou extols sharing the good, he is not referring to some fixed or predetermined ideal or attribute.

Meskipun demikian ketika Niaokou memuji berbagi kebajikan, beliau tidak merujuk pada konsep atau atribut yang “tetap” atau yang “sudah ditentukan.”


Like the Sanskrit kuśala for which it served as a translation, the Chinese word he uses, shan (善), connotes the superlative: “good” in the sense of being expert or virtuosic.

Seperti halnya kata ‘kusala’ dalam Bahasa Sanskerta, kata Mandarin yang beliau gunakan, ‘shan’ (善), berkonotasi ‘paling baik’: “baik” dalam arti benar-benar mahir atau kepandaian yang luar biasa.


Moreover, he does not advocate “being” good or even “doing” good, but rather sharing it.

Lebih lanjut, beliau tidak menganjurkan “menjadi” baik atau bahkan “melakukan” yang baik, tetapi berbagi itu.


Buddhist ethics is thus not a knowing-that something is or will be good, but rather knowing-how to extend the horizons of goodness in ways deemed valuable by others. And this knowing-how is not an intellectually-attained method, but rather the result of embodied, relationship-attuning practice.

Dengan demikian, Buddhadharma bukanlah tahu bahwa sesuatu itu baik atau akan baik, tetapi tahu bagaimana memperluas cakrawala kebajikan dengan cara-cara yang dianggap bermanfaat oleh orang lain. Dan tahu caranya ini, tidak diperoleh secara intelektual, tetapi merupakan hasil dari interaksi selaras yang termanifestasi.


***
Diterjemahkan ke Bahasa Indonesia oleh tim Potowa Center. Maret 2018.

Baca Lebih Lanjut