Sujud kepada Bhagavati Arya Taradevi. Sujud kepada para guru yang baik.
Oh, Kulaputra, kontemplasikan kata-kata saya dengan seksama. Kehidupan manusia di masa kaliyuga ini singkat sedangkan objek yang dapat dikenali (dipersepsi) begitu banyak. Kita tidak tahu secara pasti berapa lama lagi kita akan hidup. Bergegaslah menanggulangi keinginan indrawi dengan seksama. Jangan mengatakan: "Saya seorang bhiksu," selama engkau masih memikirkan kekayaan materi dan penghidupan sebagaimana seorang perumah tangga. Engkau mungkin tinggal di vihara, tetapi jangan mengatakan, "Saya seorang bhiksu, saya tinggal di vihara," dsb, selama engkau masih hanyut dalam urusan duniawi. Jangan mengatakan, "Saya seorang bhiksu, saya tinggal di vihara," dsb, selama engkau masih memiliki keinginan duniawi atau pemikiran untuk menyakiti orang lain.
Engkau mungkin tinggal di vihara, tetapi jangan mengatakan, "Saya seorang bhiksu, saya tinggal di vihara," dsb, selama engkau tidak meninggalkan sosialisasi dengan para perumah tangga dan terus tinggal bersama mereka serta membuang waktu dalam gosip romantisme dan gosip duniawi. Jangan mengatakan, "Saya seorang bhiksu, seorang Bodhisattva," dsb, jika engkau tidak tahan sedikit pun rasa sakit yang diakibatkan orang lain atau jika engkau tidak membantu orang lain sedikit pun. Jika engkau berkata demikian, engkau berbohong besar kepada para perumah tangga (grhastha). Perumah tangga mungkin terkecoh olehmu, tapi, pertama, engkau tak mungkin dapat mengelabui mereka yang melihat segalanya. Kedua, engkau tak dapat mencegah konsekuensi dari kecohan yang akan menimpa dirimu sendiri.
Ketiga, engkau tak dapat mengecoh orang yang menghayati Dharma. Sekali lagi, ingatlah kembali apa yang engkau janjikan di hadapan para Istadevata dan guru pada saat membangkitkan Bodhicitta (bodhicitta-utpadana). Saat bertemu orang-orang yang patut dimaafkan, jangan pernah mengatakan bahwa sulit memaafkan. Ingatlah [pada saat mengambil sila Bodhisattva, engkau berjanji] untuk tidak menolak (berpaling) bahkan terhadap hal yang sulit. Pada saat mengambil sila, engkau seyogianya sudah tahu apakah itu mudah atau sulit. Adalah menipu Istadevata dan guru, jika setelah mengambil sila, engkau tidak menjalankannya. Oleh karena itu, ingatlah bahwa engkau seharusnya tidak menolak (berpaling) meskipun terhadap hal yang sulit.
Sekali lagi, tujuan hidup di vihara adalah tidak berhubungan seksual dengan para perumah tangga, meninggalkan sikap berpihak pada kerabat dan menghindari sebab-sebab berbagai gejolak pikiran yang dipicu oleh hasrat seksual dan keinginan indrawi lainnya. Jagalah harta agung Bodhicitta. Jangan biarkan pikiran terganggu oleh kekhawatiran duniawi meskipun sesaat.
Konseptualisasi (vikalpa) menjadi sangat kuat, terutama karena tidak tertarik pada Dharma di masa lalu dan lemahnya ketajaman pikiran karena kebiasaan. Oleh karena itu, tiada artinya hidup di vihara jika tidak mengambil langkah-langkah tegas untuk mengatasinya. Di sisi lain, [engkau akan] sama seperti burung dan hewan yang tinggal di sana.
Jangan pernah berkata, "Sulit melakukannya sekarang, akan saya lakukan nanti." Jika apa yang engkau pikirkan terdapat suatu titik [kelemahan], klesha Mara akan merasuk. Jika klesha merasuk, maka ada rintangan bagi Bodhicitta. Jika ada rintangan, jangankan membantu orang lain, yang ada hanyalah durgati (alam rendah) untukmu. Camkan ini. Meskipun mengklaim engkau mempraktikkan Dharma, kata-katamu hampa dan tak bermakna.
Oh, Kulaputra, ketika pada akhirnya engkau meninggalkan dunia ini, jangan menjadi penyebab kesedihan dan kesusahan bagi para guru dan Istadevata. Sekali lagi, jangan membuat para perumah tangga yang berbakti merasa menyesal dan menjadi ragu.
Meskipun jika engkau berkata, "Saya bertindak selaras dengan Dharma," [kenyataannya] Dharma dan orangnya [dirimu sendiri] akan tetap terpisah jika engkau tidak berulang kali mengoreksi pikiranmu sendiri dengan merujuknya pada kitab-kitab ajaran, dan di saat kematian, bukannya muncul sedikit tanda dari praktik Bodhicitta, yang ada [hanyalah] tanda-tanda durgati. Yang ada hanyalah apa yang membawa kesedihan dan kesusahan bagi orang lain.
Oleh karena itu, saat kematian tiba, janganlah pergi dengan tangan hampa dan menghancurkan Dharma dengan klaim arogan, "Saya telah menjalani hidup dengan baik." Singkatnya, tak perlu disebut Dharma, jika engkau tinggal di vihara tapi hanya memikirkan kehidupan kali ini serta tidak menggunakan intelek dan (ketajaman) pikiran untuk menanggulangi keinginan indrawi (kama).
Walaupun engkau mengklaim akan terhindar dari [konsekuensi] karma, Dharma-mu akan merosot jika engkau tetap hanyut di dalamnya, dan terlebih lagi, jika engkau tidak menjaganya agar tidak merosot di kedua kehidupan [yaitu kehidupan ini dan kehidupan-kehidupan mendatang]. Dharma merosot tinggal sebatas nama. Oleh karena itu, sahabat, jangan berpikir begitu. Orang buta yang kehilangan permata akan sulit menemukannya kembali.
Saat bermeditasi, jangan menghitung jumlah tahun dan bulan [yang telah dijalani untuk itu]; tapi lihatlah seberapa banyak atau sedikit pengetahuan yang telah engkau peroleh dalam hati dan seberapa banyak atau sedikit kewaspadaan (disiplin) atas kebiasaan-kebiasaanmu.
Lihatlah berat-ringannya klesha. Selalu awasilah pikiranmu. Jangan membuat diri berantakan, jangan mengecoh diri sendiri, mengecoh Istadevata dan guru, jangan biarkan dirimu merosot atau membuat orang lain merosot. Apa pun kemerosotan karma di kehidupan saat ini, itu telah terjadi [tiada gunanya mengkhawatirkan itu].
Ambil contoh. Jika ada timbunan kotoran di hadapanmu, maka perlu cepat dibersihkan. Mengapa harus kesal jika itu dibersihkan dengan bantuan orang lain? Begitu pula, semua konseptualisasi di kehidupan ini – termasuk mengenai kerabat-kerabat kita – hendaknya tidak menjadi objek keterikatan. Mengapa kesal jika guru dan para sahabat [kalyanamitra] membantumu untuk meninggalkannya?
Setelah mengambil sila di hadapan para Istadevata dan guru untuk berjuang demi kesejahteraan semua makhluk, jangan mendiskriminasi objek-objek pemberian. Mungkin objek-objek pemberian berbeda-beda; tetapi dari sisimu hendaknya tidak membedakan-bedakan. Karena tidak ada perbedaan di antaranya dari sudut pandang seorang praktisi Bodhicitta. Jangan marah pada siapa pun, meskipun jika mereka merugikanmu. Bagaimana engkau bisa menumbuhkan sikap maaf, jika engkau marah pada orang yang merugikanmu? Ketika klesha apa pun [kemarahan, dsb] muncul, ingatlah penawarnya. Apa gunanya pengalaman (dharma) yang ternodai oleh klesha?
Oleh karena itu, saat menjalani tekad Bodhicitta yang paling berharga, jika ada kesenjangan dalam bentuk kegagalan meditasi, maka engkau harus mengandalkan nasihat yang luar biasa [yaitu kata-kata guru]. Jangan menjalin persahabatan dengan teman yang tidak baik. Tinggallah di tempat yang tidak terlalu ramai. Jangan biarkan arus-arus pikiran (asrava) mengumpul [dengan hidup] di satu tempat. Apa pun yang engkau lakukan, bertindaklah sesuai Dharma. Setiap kali bertindak, lakukanlah untuk menanggulangi klesha. Ini adalah visuddha-dharma. Upayakanlah itu. Jangan tercengkeram ego jika engkau mendapatkan kualitas yang baik di antara satu dari seratus tindakan. Karena jika begitu, engkau ada di bawah cengkeraman Mara. Tinggallah di tempat yang sunyi. Bersikaplah damai dan terkendali. Tanggulangi keinginan indrawi (kama) dan miliki rasa berkecukupan. Lupakan kebajikanmu sendiri dan jangan mencari-cari kesalahan orang lain. Hindari tindakan yang membawa ketakutan dan miliki standar diri.
Jangan memperbanyak konseptualisasi (vikalpa). Jagalah agar pikiran tetap murni. Jauhkan pikiran dari kesenangan seksual. Senantiasa hayati Dharma. Terimalah kekalahan dan hindari membual. Jika pun punya keinginan, milikilah keinginan untuk kebaikan. Bersikaplah moderat tentang segala sesuatu. Hormati dan layani orang lain dengan senang hati. Jauhkan diri dari orang-orang yang hanyut dalam samsara seperti menjauhkan diri dari hewan buas. Seseorang bukanlah dharmika jika dia tidak meninggalkan [keterikatan terhadap] urusan duniawi.
Tiada prabrajya tanpa meninggalkan empat bentuk grhasthakarma.
Orang yang tidak meninggalkan keinginan indrawi (kama) bukan seorang bhiksu. Orang yang tanpa maitri dan karuna bukan seorang Bodhisattva. Orang yang tidak meninggalkan karma [yang dilandasi kesalahpengertian dan klesha) bukanlah seorang maha-dhyani. Jangan terbakar oleh keinginan indrawi (kama).
Singkatnya, mereka yang tinggal di vihara dan menumbuhkembangkan Dharma, tidak seharusnya memupuk karma (tindakan yang dilandasi kesalahpengertian dan klesha). Dengan demikian, tiada rasa sesal (anutapa) saat ajal tiba.
Demikianlah diutarakan Dipamkara. Beliau juga menambahkan, masa kaliyuga ini bukan waktu untuk tersenyum; tapi saatnya memiliki keberanian. Bukan waktu untuk bersikap angkuh; tetapi saatnya bersikap rendah hati.
Ini bukan waktu untuk hidup dalam keramaian, tapi saatnya hidup dalam penyendirian. Ini bukan waktu untuk membimbing murid-murid; tetapi saatnya membimbing diri sendiri. Ini bukan waktu untuk mengikuti kata-kata [ulasan] belaka; tetapi saatnya menumbuhkembangkan makna sejati. Ini bukan waktu untuk berkelana; tapi saatnya teguh bersemayam di satu tempat.
Demikian disampaikan.
***
Sumber: “Atisa and Tibet,” translated by Alka Chattopadhyaya, under the guidance of Prof. Lama Chimpa. Publisher: Motilal Banarsidass, Delhi.
Diterjemahkan dari Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia oleh tim Potowa Center.
April 2016.






