Teks Topikal

Sembilan Tahap Pencapaian Shamatha (Nine Stages of Shamatha)

1. Pengarahan perhatian (Skt. cittasthapana)
  • Keadaan yang dicapai: Mampu mengarahkan perhatian pada objek yang dipilih
  • Daya penyebab pencapaian: Mempelajari petunjuk-petunjuk meditasi
  • Kendala: Tak ada kontinuitas perhatian pada objek
  • Tingkat ketidakseimbangan perhatian: Gejolak kasar
  • Jenis proses mental: Terfokus
  • Kualitas pengalaman: Pergerakan (selalu bergerak)
  • Perumpamaan pikiran-pikiran yang muncul: Arus pikiran-pikiran bermunculan seperti turunnya air terjun yang deras.

2. Perhatian berjeda (Skt. cittapravaha-samsthapana)
  • Keadaan yang dicapai: Adanya kontinuitas perhatian pada objek meditasi hingga satu menit
  • Daya penyebab pencapaian: Mengontemplasikan petunjuk-petunjuk meditasi
  • Kendala: Sebagian besar waktu perhatian tidak terfokus pada objek
  • Tingkat ketidakseimbangan perhatian: Gejolak kasar
  • Jenis proses mental: Terfokus
  • Kualitas pengalaman: Pergerakan (selalu bergerak)
  • Perumpamaan pikiran-pikiran yang muncul: Arus pikiran-pikiran bermunculan seperti turunnya air terjun yang deras.

3. Memperpendek jeda (Skt. cittapratiharana; cittavasthapana)
  • Keadaan yang dicapai: Perhatian yang teralihkan dengan segera kembali pada objek meditasi; sebagian besar waktu perhatian terfokus pada objek
  • Daya penyebab pencapaian: Perhatian penuh (smrti)
  • Kendala: Untuk jangka waktu yang singkat, objek masih terlupakan sama sekali
  • Tingkat ketidakseimbangan perhatian: Gejolak kasar
  • Jenis proses mental: Terputus-putus
  • Kualitas pengalaman: Pergerakan (selalu bergerak)
  • Perumpamaan pikiran-pikiran yang muncul: Arus pikiran-pikiran bermunculan seperti turunnya air terjun yang deras.

4. Perhatian yang rapat (Skt. cittopasthapana)
  • Keadaan yang dicapai: Objek meditasi tidak lagi terlupakan sama sekali
  • Daya penyebab pencapaian: Perhatian penuh, yang sekarang sudah kuat
  • Kendala: Sedikit-banyak mengalami kepuasan mengenai samadhi
  • Tingkat ketidakseimbangan perhatian: Keloyoan kasar dan gejolak menengah
  • Jenis proses mental: Terputus-putus
  • Kualitas pengalaman: Pencapaian (merasa mencapai sesuatu)
  • Perumpamaan pikiran-pikiran yang muncul: Pikiran-pikiran bermunculan dengan sendirinya seperti sungai yang mengalir deras melalui jurang.

5. Perhatian terkendali (Skt. cittadamana)
  • Keadaan yang dicapai: Mengalami kepuasan mengenai samadhi
  • Daya penyebab pencapaian: Introspeksi (samprajanya)
  • Kendala: Sedikit-banyak timbul penolakan terhadap samadhi
  • Tingkat ketidakseimbangan perhatian: Keloyoan menengah dan gejolak menengah
  • Jenis proses mental: Terputus-putus
  • Kualitas pengalaman: Pencapaian (merasa mencapai sesuatu)
  • Perumpamaan pikiran-pikiran yang muncul: Pikiran-pikiran bermunculan dengan sendirinya seperti sungai yang mengalir deras melalui jurang.

6. Perhatian tanpa gangguan (Skt. cittashamana)
  • Keadaan yang dicapai: Tidak ada penolakan untuk melatih perhatian
  • Daya penyebab pencapaian: Introspeksi (samprajanya)
  • Kendala: Keinginan, depresi, kelesuan dan perasaan mengantuk
  • Tingkat ketidakseimbangan perhatian: Keloyoan menengah dan gejolak halus
  • Jenis proses mental: Terputus-putus
  • Kualitas pengalaman: Pencapaian (merasa mencapai sesuatu)
  • Perumpamaan pikiran-pikiran yang muncul: Pikiran-pikiran bermunculan dengan sendirinya seperti sungai yang mengalir perlahan melalui lembah.

7. Perhatian sepenuhnya tanpa gangguan (Skt. cittavyupashamana)
  • Keadaan yang dicapai: Keterikatan, kesedihan dan kelesuan mereda
  • Daya penyebab pencapaian: Antusiasme
  • Kendala: Ketidakseimbangan halus dalam memfokuskan perhatian, segera teratasi
  • Tingkat ketidakseimbangan perhatian: Keloyoan halus dan gejolak halus
  • Jenis proses mental: Terputus-putus
  • Kualitas pengalaman: Pembiasaan
  • Perumpamaan pikiran-pikiran yang muncul: Pikiran-pikiran bermunculan dengan sendirinya seperti sungai yang mengalir perlahan melalui lembah.

8. Perhatian terpusat (Skt. cittaikotikarana)
  • Keadaan yang dicapai: Samadhi berlangsung lama, tanpa gejolak atau keloyoan apapun
  • Daya penyebab pencapaian: Antusiasme
  • Kendala: Masih dibutuhkan upaya untuk mencegah gejolak dan keloyoan
  • Tingkat ketidakseimbangan perhatian: Gejolak halus dan keloyoan halus bersifat laten
  • Jenis proses mental: Tidak terputus-putus (tanpa interupsi)
  • Kualitas pengalaman: Ketenangan
  • Perumpamaan pikiran-pikiran yang muncul: Pikiran-pikiran konseptual tenang seperti lautan tanpa ombak.

9. Perhatian seimbang (Skt. samadhana)
  • Keadaan yang dicapai: Samadhi sempurna berlangsung lama dan dapat dipertahankan tanpa daya upaya
  • Daya penyebab pencapaian: Pembiasaan
  • Kendala: Ketidakseimbangan perhatian dapat muncul kembali di masa depan
  • Tingkat ketidakseimbangan perhatian: Penyebab-penyebab berbagai ketidakseimbangan masih berpotensi untuk muncul
  • Jenis proses mental: Tanpa daya upaya
  • Kualitas pengalaman: Kesempurnaan
  • Perumpamaan pikiran-pikiran yang muncul: Pikiran-pikiran konseptual tenang dan kokoh seperti Gunung Meru, raja dari semua gunung.

Gejolak kasar: perhatian sepenuhnya teralihkan dari objek meditasi.
Gejolak menengah: pikiran-pikiran yang bermunculan dengan sendirinya menyita pusat perhatian sementara objek meditasi tersisihkan.
Gejolak halus: objek meditasi tetap menjadi pusat perhatian dan pikiran-pikiran yang bermunculan dengan sendirinya tersisihkan.

Keloyoan kasar: sebagian besar waktu, perhatian terputus dari objek meditasi karena kurangnya ketajaman.
Keloyoan menengah: objek meditasi muncul tetapi tidak begitu jelas dan tajam.
Keloyoan halus: objek meditasi muncul secara jelas dan tajam, tetapi perhatian sedikit mengendur.


Catatan:
Dikutip dari buku 'Merevolusi Ketajaman Perhatian - Menyingkap Mekanisme Kesadaran' (The Attention Revolution) oleh B. Alan Wallace, Ph. D. Penjelasan yang lebih lengkap mengenai Shamatha dapat ditemukan dalam buku tersebut.
Diterjemahkan oleh tim Potowa Center. Oktober 2009.

Baca Lebih Lanjut